Makassar SEAscreen Feature Film Development Lab 2 – 6 Maret 2016

Makassar SEAscreen Feature Film Development Lab 2 – 6 Maret 2016. 

Tiga (3) kelompok pembuat film dari Indonesia Timur akan menjalani proses pengembangan bersama pembuat film utama Asia Tenggara.

Tomomi Ishiyama sutradara Last Days of Summer & Inside Architecture Japan

Tomomi Ishiyama sutradara Last Days of Summer & Inside Architecture Japan

 

SEAscreen Academy edisi keempat mengembangkan bentuk menjadi Feature Film Development Lab, laboratorium pelatihan sineas dengan pola pendampingan untuk pengembangan konsep dan skenario film cerita panjang. Pelatihan terdiri dari lokakarya penulisan skenario dan berbagai tahap serta proses produksi pemateri sineas utama Asia, Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pada bulan Maret, Agustus dan Oktober 2016.

Mereka  yang terpilih telah melalui dua tahapan seleksi ketat, terpilih lah tiga tim dengan konsepnya masing-masing yang berhak ikut SEAscreen Development Lab 2016.

Konsep pertama adalah “Deni & Andi”, cerita tentang hari hari saat terjadi ketegangan rasial di kota Makassar dari sudut pandang dua anak remaja. Sutradara Yandy Laurens dan Andi Burhamzah sebagai Produser. Prestasi Yandy Lauren mulai diperhitungkan saat Tugas karya akhirnya ‘Wan An’ memenangkan sebuah piala FFI dan juga mendapatkan nominasi dan penghargaan di beberapa festival film nasional maupun internasional. Begitu pun juga dengan Sutradara Andi Burhamzah atau biasa dipangil Ancha, Tugas karya akhirnya, film pendek berjudul ‘Cita’ mendapatkan kesempatan berkompetisi di beberapa festival film nasional dan internasional. Ancha juga aktif dalam komunitas film di Makassar dan menyutradarai video musik dari musisi lokal di Makassar.

Selanjutnya adalah “Mountain Song”, karya Sutradara Yusuf Rajamuda dan Produser Zulkifly Pagessa yang berasal dari Palu, bercerita mengenai ibu dan anak yang mendiami pegunungan Sulawesi Tengah. Yusuf rajamuda, lahir dan bekerja di Palu. Film pendek terakhirnya berjudul “Halaman Belakang” dibuat pada 2013. Film ini meraih Ladrang Award Festival Film Solo 2013, Film Pendek Terbaik Apresiasi Film Indonesia 2013, Meraih Sutradara Terbaik pada kompetisi Film Pendek Indonesia di Festival Sinema Prancis 2013. Karya nya ini juga berkompetisi di Dubai International Film Festival 2013, Vladivostok IFF 2014, TISSA IFF Morocco 2014, diputar di Hanoi IFF 2014, dan kompetisi Experimenta Bangalore India 2015. Sedangkan Zulkifly pagessa lahir di Donggala 1969. Bekerja sebagai sutradara, penulis dan produser teater bersama beberapa seniman di Masyarakat Batu. Sejak tahun 2001, beberapa kali memfasilitasi pembuatan film pendek beberapa sineas muda di Kota Palu.

Konsep film ketiga yang terpilih mengikuti SEAscreen development Lab ini berjudul “Ujan Segera Pergi” dengan Sutradara Wucha Wulandari, Produser Nastitya Diesta dan Penulis Agustinus Sudarsa. Film karya Wucha wulandari diantaranya adalah Salah Apa (2010), Alter Ego (2012) dan Potret (2015), film-film ini berhasil meraih beberapa penghargaan, nominasi film pendek Indonesia Film Festival Australia, Face of Indonesia JAFF(2015) dan Nominasi film pendek Piala Maya (2015). Sedangkan Nastitya Diesta, Saat ini selain bekerja di dinas kebudayaan seksi Film, ia sedang menjalani Program Studi Magister Kajian Budaya dan Media Universitas Gajah Mada dengan fokus pada film studies.  Penulis dari cerita “Ujan segera pergi” adalah Agustinus Sudarsa kelahiran 1977. Film pendek yang ditulisnya “Djedjak Darah : Surat Teruntuk Adinda” mendapatkan Piala Citra pada 2004.

Ketiga tim tersebut akan mengikuti workshop pada tanggal 2-5 maret 2016 dengan para mentor diantara nya adalah Kamila Andini (sutradara Mirror Never Lies, Sendiri Diana Sendiri), Tomomi Ishiyama (sutradara Jepang, the Last days of Summer, Inside Architecture Japan) dan Yosef Anggi Noen (sutradara Vakansi yang Janggal, Love Story Not). Kehadiran sutradara perempuan Tomomi Ishiyama bertujuan untuk terjadinya saling pertukaran informasi dan pengalaman tentang perkembangan film antara Indonesia dan Japang. Selain juga memberi gambaran tentang isu sinema regional / wilayah dalam industri film Jepang.

Selain mengadakan kegiatan yang bersifat pelatihan, SEAScreen academy kali ini juga menyelenggarakan sebuah agenda publik berupa Simposium Internasional: Sinema Regional, potensi budaya & ekonomi, sebuah studi Jepang & Indonesia Timur. Berlangsung di Lecture Theater Universitas Negeri Makassar pada tanggal 4 Maret 2016 pukul 14.30 sampai selesai.

Makassar SEAscreen Feature Film Development Lab dipersembahkan oleh Rumata’ dengan dukungan dari Japan Foundation Asia Center. Dengan  juga dukungan dari  Bosowa Foundation, Novotel Makassar Grand Shayla, Kalla Group, Ayam Goreng Sulawesi, Miles Films, Fix It Post dan Four Mix Audio.

Speak Your Mind

*